Menu

Kekerasan Terhadap Warga Rohingya Menjadi Salah Satu Isu Utama


Kekerasan terhadap warga Rohingya menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam diskusi meja bundar yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono.

Agus memimpin perbincangan sebagai Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute. Hadir sejumlah tokoh yang kebanyakan mantan menteri di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

“Sungguh memanas di tanah air, yaitu tragedi kemanusiaan Rohingya di Myanmar,” kata Agus dalam pidatonya di Hotel Dharmawangsa, Rabu.

Semenjak Rohingya tak diakui sebagai warga negara Myanmar dalam Undang-Undang Kewarganegaraan 1982, kekerasan tersebut sudah lama terjadi

Permasalahan ini, menurut ia, menjadi tugas rumah bagi negara-negara di ASEAN, tergolong Hindia-Australia.

Agus juga sempat menyinggung soal jasa bapaknya, SBY, dalam melakukan diplomasi terhadap Myanmar.

“Di masa kemudian pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Bapak SBY pernah berhasil melakukan diplomasi secara tertutup yang sukses membujuk pemerintah Myanmar untuk berubah sikap dan membuka jalan untuk menuju reformasi terbatas yang lalu diikuti pemilu pertama yang berjalan relatif bebas dan damai,” ucap Agus.

Adapun sikap petinggi Myanmar Aung San Suu Kyi juga mendapat kritik. Lantaran, kata Agus, Aung San Suu Kyi dalam pidatonya hanya nengakui terjadinya kekerasan di negara bagian Rakhine dan menyelidiki eksodus masyarakat Rohingya ke luar negeri.

Tapi, peran militer Myanmar dalam tragedi itu tak disebutkan oleh aung San Suu Kyi.

Menurut dia, solusi-solusi permanen terhadap permasalahan warga Rohingya dipikirkan oleh negara-negara ASEAN perlu untuk.

“Mungkinkah ASEAN membentuk misi perdamaian yang independent observer, yang netral dan juga imparsial untuk mengobservasi langkah-langkah pelaksanaan perdamaian secara objektif dengan tetap menghormati prinsip-prinsip non intervensi ASEAN?” kata Agus.

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sudah menuduh tentara Myanmar melakukan pemusnahan etnis melalui operasi pembunuhan dan pengeboman yang menewaskan puluhan orang di desa-desa yang dihuni warga Rohingya.

Tentara menyangkal tuduhan tersebut. Mereka bersikukuh operasi tersebut merupakan tanggapan yang proporsional terhadap serangan akhir Agustus oleh militan Rohingya, yang mereka beri label sebagai “teroris Bengali”.

Semenjak saat itu, separuh dari populasi Rohingya di Rakhine menyelamatkan diri ke Banglades, di mana mereka saat ini juga tersiksa di salah satu kamp evakuasi terbesar di dunia.

Leave a reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *